Tampilkan postingan dengan label laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laporan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

Destilasi Fraksinasi

A.      JUDUL               : DESTILASI FRAKSINASI
B.       TUJUAN                        : 1. Menentukan indeks bias destilat
                                      2.Menentukan persentase kemurnian destilat
C.      DASAR TEORI
Destilasi adalah proses dimana zat cair dipanaskan hingga titik didihnya, serta mengalirkan uap ke dalam alat pendingin (kondensor) dan mengumpulkan hasil pengembunan sebagai zat cair. Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair lainnya yang mempunyai titik didih berbeda.
Destilasi tunggal menghasilkan pemisahan parsial dari komponen dimana fasa uap diperkaya dengan zat yang lebih volatil. Dalam destilasi fraksional atau destilasi bertingkat proses pemisahan parsial diulang berkali-kali dimana setiap kali terjadi pemisahan lebih lanjut. Hal ini berarti proses pengayaan dari uap yang lebih volatil juga terjadi berkali-kali sepanjang proses destilasi fraksional itu berlangsung. Proses pengayaan itu bila digambarkan menghasilkan gambar berikut.
Menurut gambar di atas, larutan dengan komposisi XB,0 jika dipanaskan sampai suhu T0 larutan ini akan mulai mendidih menghasilkan kondesat dengan komposisi XB,l. Komposisi XB,l ini sama dengan YB,0 dengan titik didih Tl. Kondesat ini dijaga pada suhu Tl dan sejumlah kecil uap dikumpulkan. Kondesat kedua mempunyai komponen XB,2 dan bertitik didih T2. Langkah-langkah proses ini dapat diulang-ulang sampai didapatkan destilasi murni dari komponen yang lebih volatil dan residu murni dari komponen yang kurang volatil.
Destilasi merupakan suatu teknik pemisahan larutan yang berdasarkan pada perbedaan titik didihnya. Destilasi terfraksi digunakan untuk larutan yang mempunyai perbedaan titik didih yang tidak terlalu jauh yaitu sekitar 30oC atau lebih. Dasar pemisahan suatu campuran dengan destilasi adalah adanya perbedaan titik didih dua cairan atau lebih yang jika campuran tersebut dipanaskan, maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Dengan mengatur suhu secara cermat, kita dapat menguapkan dan kemudian mengembunkan komponen-komponen secara bertahap.
Destilasi terfraksi ini berbeda dengan destilasi biasa, karena terdapat suatu kolom fraksionasi dimana terjadi suatu proses refluks. Proses refluk pada destilasi ini dilakukan agar pemisahan campuran etanol-air dapat terjadi dengan baik. Kolom fraksionasi berfungsi agar kontak antara cairan dengan uap terjadi lebih lama. Sehingga komponen yang lebih ringan dengan titik didih yang lebih rendah akan terus menguap dam masuk kondensor. Sedangkankan komponen yang lebih besar akan kembali kedalam labu destilasi.
Tujuan dari percobaan destilasi ini adalah untuk mengetahui konsentrasi maksimun destilat yang dapat diperoleh, menentukan HETP (height equivalent to a theoretical plate) pada refluks total, serta menentukan jumlah tahap minimum (Nmin) pada refluks total. HETP adalah panjang isian (panjang kolom) dibagi dengan jumlah kepingan teoritis, ditentukan untuk mengetahui efesiensi kolom destilasi. Prinsipnya berdasarkan pada Hukum Roult yaitu tekanan uap pada larutan ideal pada suhu tertentu sebanding dengan tekanan uap murni dikali dengan fraksi murni. Dan Hukum Dalton yaitu tekanan ideal dalam suatu campuran gas sama dengan tekanan parsial masing-masing komponennya.
Kolom fraksionasi: dalam praktek, kolom tutup gelembung kurang efektif untuk pekerjaan di laboratorium. Hasilnya relatif terlalu sedikit bila dibandingkan dengan besar bahan yang tergantung di dalam kolom. Dengan kata lain kolom tutup gelembung memiliki keluaran yang kecil dengan sejumlah besar bahan yang masih tertahan di dalam kolom.
Keefektifan kolom ini sangatt dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti cara pengaturan materi di dalam kolom, pengaturan temperatur, panjang kolom dan kecepatan penghilangan hasil destilasi. Satuan dasar efisiensi adalah tinggi setara dengan sebuah lempeng teoritis (HETP atau H). Besarnya H sama dengan panjang kolom dibagi dengan jumlah plat teoritis. Banyaknya plat teoritis H bergantung pada sifat campuran yang dipisahkan.

D.      ALAT DAN BAHAN

-          Tabung reaksi
-          Distilator
-          Termometer
-          Gelas ukur
-          Kolom fraksinasi
-          Statif
-          Klem
-          Kondensor
-          Plastisin
-          Lakban/ solasi
-          Penyumbat karet
-          Refraktometer
-          Pipet tetes
-          Labu dasar bulat
-          Bejana alumini
-          Batu didih
-          Spirtus
-          Air


E.       LANGKAH KERJA
a.                Merangkai alat sesuai dengan gambar pada rangkaian percobaan
b.                Mengisi labu destilasi dengan 100 ml spirtus
c.    Memanaskan labu destilat yang diletakkan pada wadah aluminium menggunakan kompor listrik hingga suhunya mencapai  640C – 65 0C.
d.               Menampung 4 ml destilat yang dihasilkan sebanyak 3 kali
e.                Mencari indeks bias destilat yang dihasilkan menggunakan refraktometer
f.     Membandingkan indeks bias destilat yangdihasilkan dengan indeks bias metanol 95 %, metanol 80 %, metanol 70 %, metanol 60 %, metanol 50 % , metanol 40 % , dan metanol 30 %.
g.                Menghitung  % kemurnian dari 3 sampel destilat yang ditampung.
h.                Menghitung % kemurnian rata – rata  dari destilat yang dihasilkan.


F.   ALUR KERJA
·                   Gambar Rangkaian




 














G.      DATA
NO.
PERLAKUAN
PENGAMATAN
SEBELUM
SESUDAH
1.
·  Labu destilasi diisi dengan 100 ml spirtus, dipanaskan sampai 64,5oC
·  Destilat yang dihasilkan ditampung dalam Erlenmeyer (4 mL)
·  Diukur indeks biasnya menggunakan refraktometer




· Destilat I

· Destilat II

· Destilat III
Spirtus = ungu
n alkohol 30% = 1,3483541
n alkohol 40% = 1,3405042
n alkohol 50% = 1,3415543
n alkohol 60% = 1,3405043
n alkohol 70% = 1,3394040
n alkohol 80% = 1,3373040
n alkohol 90% = 1,3330540
n alkohol 95% = 1,3320044









n1 = 1.3330040
% = 90,04752 %
n2 = 1.3330044
% = 90,2362 %
n3 = 1.3330048
% = 90,0297 %

H.      ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada percobaan Destilasi Fraksinasi untuk menentukan kemurnian spirtus  langkah pertama yang dilakukan ialah mengisi labu distilasi dengan 100 mL spirtus, spirtus berwarna ungu. Kemudian merangkai alat distilasi dan memanaskan serta  menjaga suhu labu destilasi  yang berisi  spirtus sampai  mencapai suhu antara  64 oC  - 65oC (dijaga konstan pada temperature tersebut) Hal ini karena metanol atau spirtus memiliki titik didih sebesar 64,7 oC sehingga suhu harus dijaga agar tetap konstan untuk mendapatkan uap metanol secara maksimal. Setelah mencapai titik didih, metanol akan menjadi uap (gas) melalui pipa pendingin yang berbentuk zigzag. uap metanol didinginkan dengan air, yang disirkulasikan dengan air masuk dan air keluar. Dengan adanya pendinginan akan terjadi kondensasi. sehingga uap berubah kembali menjadi cair dan ditampung dalam tempat penampung distilat .
Penggunaan Kolom fraksional  pada destilasi fraksinasi berfungsi  memberikan luas permukaan yang besar agar uap yang berjalan naik dan cairan yang turun dapat bersentuhan. Di puncak kolom, termometer digunakan untuk mengukur suhu fraksi pertama yang kaya dengan komponen yang lebih mudah menguap yaitu spiritus. Dengan berjalannya distilasi, skala termometer meningkat menunjukkan bahwa komponen yang lain yaitu air yang kurang mudah menguap juga ikut terbawa.
 Pada percobaan yang telah dilakukan, diambil 3 sampel destilat Destilat yang dihasilkan jernih., Untuk mengetahui kemurnian destilat ,destilat yang dihasilkan ditampung dalam Erlenmeyer dan diukur indeks biasnya menggunakan refraktometer.. 4 mL destilat pertama indeks biasnya 1.3330040; 4 mL kedua indeks biasnya 1.3330044; 4 mL ketiga indeks biasnya 1.3330048. Indeks bias tersebut kemudian dibandingkan dengan indeks bias methanol 90% dan 95% untuk menghitung persen kemurniannya, dengan rumus:

% kemurnian        = (n destilat-n bawah/n atas- n bawah)x(% atas-%bawah) + % bawah
Didapat persen kemurnian destilat I adalah 90,04752 %; destilat II 90,2362 %; dan destilat III 90,0297 %. Rata-rata persen kemurnian destilat adalah 90,10447 %.
Rata-rata kemurnian destilat  yang didapat sebesar  90,10447%. Hal tersebut berarti distilat mengandung 90,10447% methanol dan 9,89553% sisanya bisa berupa etanol, air atau komposisi lain.
I.         KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
-          Destilat pertama memiliki  indeks bias 1.3330040 ; Destilat  kedua memiliki indeks bias 1.3330044; Destilat ketiga memiliki  indeks bias 1.3330048.
-          Dari Indeks bias destilat yang didapat dan membandingkannya dengan indeks bias metanol 90 % dan 95 % didapatkan kemurnian destilat (metanol) rata – rata sebesar 90,10447%.
-          Dari presentase yang di dapat, dapat diketahui spiritus mengandung 90,10447% methanol dan 9,89553% sisanya bisa berupa etanol, air atau komposisi lain.
J.        DAFTAR PUSTAKA
      
Budiasih, Endang.Dkk. 2003. Common Textbook Kimia Analitik II. Malang: JICA
Poedjiastoeti, Sri. Dkk. 2011. Panduan Praktikum Kimia Analitik II: Dasar-Dasar Pemisahan Kimia. Surabaya: UNESA
Anonim,2009. Pemisahan Kimia (http://www.kimiadahsyat.com ) diakses pada tanggal 17 Maret 2010.

praktikum kimia analitik- koefisien distribusi iod


A.  Judul          : KOEFISIEN DISTRIBUSI IOD

B.  Tujuan       : 1. Mengekstrak Iod ke dalam pelarut organik
2. Menghitung harga KD dari Iod

C.  Kajian Teori
       Jenis metode pemisahan ada berbagai macam, diantaranya yang paling baik dan populer adalah ekstraksi pelarut atas ekstraksi air Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solut) di antara dua fasa cair yang tidak saling bercampur, seperti benzen, karbon tetraklorida atau kloroform, dengan batasan zat terlarut dapat ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut. Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia dan anorganik di laboratorium. Alat yang digunakan dapat berupa corong pemisah  (paling sederhana), alat ekstraksi Soxhlet, sampai yang paling rumit, berupa alat “Counter Current Craig”.  Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih baik untuk zat organik maupun zat anorganik. Secara umum, ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat terlarut dari larutannya di dalam air oleh suatu pelarut lain yang tidak dapat bercampur dengan air.Tujuan ekstraksi ialah memisahkan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan pelarut
       Menurut hukum distribusi Nernst, bila ke dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur dimasukkan solut yang dapat larut dalam kedua pelarut tersebut, maka akan terjadi pembagian kelarutan. Kedua pelarut tersebut umumnya pelarut organik dan air. Dalam praktek solut akan terdistribusi dengan sendirinya ke dalam dua pelarut tersebut setelah dikocok dan dibiarkan terpisah. Perbandingan konsentrasi solut di dalam kedua pelarut tersebut tetap dan merupakan suatu tetapan pada suhu tetap. Tetapan tersebut disebut tetapan distribusi atau koefisien distribusi, yang dinyatakan dengan rumus:
 =     atau   =  
KD = koefisien distribusi
C1 = konsentrasi solute pada pelarut 1
C2 = konsentrasi solute pada pelarut 2
Co = konsentrasi solute pada pelarut organik
Ca  = konsentrasi solute pada pelarut air
       Dari rumus tersebut  jika harga KD besar,solute secara kuantitatif akan cenderung terdistribusi lebih banyak ke dalam pelarut organikbegitu pula sebaliknya. Rumus tersebut hanya berlaku bila :
a.         Solute tidak terionisasi dalam salah satu pelarut
b.         Solute tidak berasosiasi dalam salah satu pelarut
c.         Zat terlarut tidak dapar bereaksi dengan salah satu pelarut atau adanya reaksi- reaksi lain.
       Iod mampu larut dalam air dan juga dalam kloroform. Akan tetapi, perbedaan kelarutannya dalam kedua pelarut tersebut cukup besar. Dengan mengekstraksi larutan iod dalam air ke dalam kloroform, menghitung konsentrasi awal dan sisa iod dalam air dengan cara titrasi, maka dapat diperoleh konsentrasi iod dalam kedua pelarut tersebut, sehingga koefisien distribusi KD iod dalam sistem kloroform-air dapat ditentukan.
Angka banding distribusi menyatakan perbandingan konsentrasi total zat terlarut dalam pelarut organik (fasa organik) dan pelarut air (fasa air).Jika zat terlarut itu adalah X maka rumus angka banding distribusi dapat ditulis :

       Untuk keperluan analisis kimia angka banding distribusi (D) akan lebih bermakna daripada koefisien distribusi (KD). Pada kondisi ideal dan tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau polimerisasi, maka harga KD sama dengan D.

D.  Alat dan Bahan
Alat
·      Labu ukur 100 ml                      (1 buah)
·      Gelas kimia 250 ml                    (1 buah)
·      Erlenmeyer 250 ml                    (3 buah)
·      Corong pisah                             (1 buah)
·      Pipet gondok 10 ml                   (1 buah)
·      Pipet tetes                                  (5 buah )
·      Gelas ukur 10 ml                       (1 buah)
·      Statif dan klem                          (1 buah)
·      Buret                                          (1 buah)
·           ball pipet                                 (1buah)
Bahan
·      Aquades
·      Larutan Iod 0,1 N
·      Kloroform 
·      H2SO4 2 N
·       Larutan kanji 0,2 %
·      Na2S2O3 0,01 N

E.  Rancangan Percobaan
·      Langkah Kerja
1.      Pembuatan larutan iod
Dalam pembuatan larutan iod diawali dengan mengambil 10 ml larutan Iod dengan pipet gondok dan dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. selanjutnya diisi dengan sedikit aquades dan dikocok hingga kedua larutan bercampur. Kemudian ditambahkan aquades ± 1 cm di bawah batas meniscus dan dikocok sampai rata. Langkah berikutnya adalah dengan menambahkan aquades melalui pipet tetes sampai batas meniscus labu ukur.
2.      Penentuan konsentrasi iod awal
10 ml larutan iod yang sudah diencerkan dimasukkan ke dalam 3 tabung Erlenmeyer @ 10 ml. kemudian pada masing-masing Erlenmeyer ditambahkan 2 ml larutan H2SO4 2M dan 1ml larutan kanji 1M. kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0,01N. dicatat volume Na2S2O3 yang diperoleh untuk menghitung mmol dan konsentrasi dari iod awal
3.      Penentuan konsentrasi iod sisa
10 ml larutan iod yang sudah diencerkan diambil dengan pipet gindok dan dimasukkan ke dalam corong pisah. Ditambah dengan 1 ml kloroform dan dikocok hingga lapisan organic terpisah dari lapisan air. Corong pisah diletakkan pada ring sehingga lapisan organic mengendap dan membuka kran agar lapisan organic tertampung pada beaker glass. Menambah 1 ml kloroform lagi dan mengulang langkah kerja nomor 3 hingga total kloroform yang ditambahkan mencapai 5 ml. selanjutnya lapisan air dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan ditambah dengan 2 ml H2SO4 2M dan 1 ml larutan kanji 1M. kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 0,01 N dan di catat volumenya. Percobaan diulang 3 kali.
·      

F.   Hasil Pengamatan (Data)
No
PERLAKUAN
PENGAMATAN
SEBELUM
SESUDAH
1
Pembuatan larutan iod
1.    10 mL iodin diambil dengan pipet gondok dan dimasukkan dalam labu ukur
2.    Ditambahkan sedikit aquades.
3.    Dikocok sampai tercampur. Ditambahkan aquades ± 1 cm di bawah tanda meniscus lalu mulut labu ukur ditutup dan dikocok sampai aquades dan iod tercampur sempurna.
4.    Ditambah air sampai batas meniscus.
Larutan iod:
Merah kecoklatan (+++)


Aquades:
Jernih tak berwarna
Larutan iod stelah pengenceran:
Merah kecoklatan
2
Menentukan konsentrasi iod awal
1.    10 mL I2 yang sudah diencerkan diambil dengan pipet gondok dan dimasukkan kedalam 3 tabung Erlenmeyer @ 10 mL
2.    Ditambah 2 mL larutan H2SO4 2 M
3.    Ditambah 1 mL larutan kanji 2%
4.    Dititrasi dengan Na2S2O3 0,01N
5.    Titrasi Iod awal diulangi sampai 3 kali.
I2 setelah pengenceran:
merah kecoklatan

H2SO4:
Jernih tak berwarna

Larutan kanji:
Jernih tak berwarna
I2 standar + H2SO4 + kanji:
Hijau kehitaman

I2 setelah dititrasi:
Jernih

V1 S2O32- =  14,5 mL
V2 S2O32- =  14,3 mL
V3 S2O32- =  14,4 mL
3
Menentukan konsentrasi iod sisa
1.    10 mL larutan iod yang sudah diencerkan dimasukkan ke dalam corong pisah
2.    Ditambah 1 mL kloroform 5 kali
3.    Setiap 1 penambahan 1 mL kloroform dikocok hingga terbentuk dua fase yaitu fase organik berada di lapisan bawah dan fase air berada di lapisan atas
4.    Corong pisah dibuka hingga hanya tertinggal fase air
5.    Fase air dipindahkan ke Erlenmeyer
6.    Ditambah 2 mL H2SO4 2 M dan 1 mL larutan kanji 2%
7.    Dititrasi dengan Na2SO4 0,01 N
8.    Titrasi diulangi 3 kali.
Kloroform :
Jernih tak berwarna
I2 + kloroform:
Merah kecoklatan

Fase organik:
Ungu

Fase air:
Kuning (++)

I2 + H2SO4 + kanji:
Hijau kehitaman
I2 setelah titrasi:
Jernih tak berwarna

V1 S2O32- =  2,8 mL
V2 S2O32- =  3,0 mL
V3 S2O32- =  2,7 mL

G.  Analisis dan Pembahasan
Analisis
       Telah dilakukan percobaan yang bertujuan untuk mengekstrak iod ke dalam pelarut organik dan menghitung harga KD dari iod. Langkah-langkah percobaan terbagi menjadi 4 yaitu pembuatan larutan iod, menentukan konsentrasi iod awal, mengekstrak iod dan menentukan konsentrasi iod sisa. Pembuatan larutan iod diawali dengan cara memipet iod kemudian mengencerkannya dengan aquades. Langkah berikutnya adalah menentukan konsentrasi iod awal dengan cara menitrasinya dengan larutan Na2S2O3. 10 ml larutan iod diambil dengan pipet gondok dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer. Larutan tersebut ditambahkan dengan 2 ml H2SO4 2M. tujuannya adalah member suasana asam. Selanjutnya ditambahkan dengan 1 ml larutan kanji 2%. Larutan kanji berfungsi sebagai indicator. Setelah ditambahkan larutan kanji, warna larutan berubah dari merah kecoklatan menjadi hijau kehitaman. Dari hasil titrasi diketahui konsentrasi iod sebesar 0,0072 M.
       Setelah diketahui konsentrasi iod awal, langkah selanjutnya adalah mengekstraksi iod. Mula-mula merangkai alat yang terdiri dari corong pisah dan statif. Larutan iod dimasukkan ke dalam corong pisah lalu ditambahkan @1mL kloroform sebanyak 5 kali. Setiap penambahan 1 mL kloroform, penambahan kloroform sebanyak 1 ml berturut-turut selama lima kali bertujuan agar harga KD yang diperoleh nanti besar. Larutan dikocok sambil sesekali corong pisah dibuka. Tujuan dari pembukaan corong pisah adalah untuk membuang gas yang timbul. Gas yang timbul selama proses pengkocokan adalah uap kloroform. Larutan terus dikocok sampai warna iod memudar. Warna iod yang pudar menandakan bahwa telah terjadi proses ekstraksi larutan iod oleh kloroform (pelarut organik). Langkah selanjutnya adalah memisahkan pelarut organik dari larutan iod. Pelarut organik yang sudah tercampur iod warnanya berubah menjadi merah muda selanjutnya disebut fase organik.
       Larutan iod hasil ekstraksi (fase air) kemudian dititrasi dengan Na2S2O3 untuk menentukan konsentrasinya. Sebelum dititrasi larutan hasil ekstraksi juga ditambahkan dengan 2 ml H2SO4 2M serta larutan kanji 1 ml 2% dengan tujuan sama seperti yang telah disebutkan di atas. Dari hasil titrasi diketahui konsentrasi larutan iod fase air sebesar 0,00142 mol.selanjutnya adalah menghitung mol dari larutan dalam fase organik :
                  
       Setelah diperoleh mmol Iod awal kemudian menghitung konsentrasi dalam fase organic. Dari hasil perhitungan diketahui konsentrasi fase organik sebesar 0,01156 M. Sehingga harga K­D bisa dihitung menggunakan persamaan:
       Setelah dimasukkan nilai fase organik 0,01156 M dan fase air 0,00142 M, maka diketahui harga KD iod 8,14.

H. Pembahasan
       Dari hasil percobaan, ternyata diperoleh harga KD tidak 10 melainkan 8,14. Hal ini disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, dalam mengocok larutan pada corong pisah kurang benar sehingga hanya sedikit kloroform yang terekstrak dan menyebabkan larutan fase air masih mengandung kloroform sehingga diperoleh harga KD hanya 8,14. Kedua, setelah ekstraksi, larutan iod tidak didiamkan sebentar tetapi langsung ditambahkan H2SO4 dan larutan kanji. Dengan demikian, warna larutan setelah ditambahkan larutan kanji menjadi berwarna hijau kehitaman bukan berwarna biru dan berpengaruh pada volume Na2S2O3 yang mengakibatkan harga KD yang diperoleh kecil.

     Kesimpulan
Berdasarkan percobaan koefisien distribusi iod yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
1.      Iod telah terekstrak ke dalam pelarut organik ditandai dengan memudarnya warna larutan iod.
2.      Koefisien  distribusi iod (KDI) yang diperoleh berdasarkan hasil praktikum adalah 8,14

I.     Jawaban Pertanyaan
1.    Apa perbedaan KD dan D?
Koefisien Distribusi (KD) menyartakan perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam fase air dan fase organic saat tidak ada interaksi antara zat terlarut dan pelarutnya. Sedangkan angka banding distribusi (D)adalah perbandingan konsentrasi zat terlarut dalam fase air dan organic saat zat terlarut berinteraksi dengan pelarutnya.
Secara matematis KD dinyatakan dengan:
    KD =

untuk D dinyatakan dengan :
   D =



2.    Bila mana harga KD sama denagn D?
Pada  kondisi ideal dan tidak terjadi asosiasi, disosiasi atau polimerisasi, maka harga KD sama dengan D
3.    Bagaimana mencari harga hubungan antara KD dan untuk asam lemah HB? Asam lemah HB yang mengalami dimerisasi dalam suatu pelarut organik?
Hubungan KD dan D untuk asam lemah yang terdimerisasi dalam fasa organik, misalnya reaksi dimerisasi asam lemah dalam fase organic
                           2 HB  HB2

   HB
                                                                            (fasa organik)
     HB + H2O                             H3O+ + B       (fasa  air)
 dapat dicari dengan:
 ……………………..(1)
 
……………………..(3)
Persamaan (1) disubstitusikan dalam persamaan (3)

 D= ………………………..(4)
Dengan mengeluarkan  dalam pembagi, maka
D =
Merujuk ke persamaan (2), maka :
               D =
4.    Bagaimana mencari hubungan antara KD dan D untuk basa lemah yang terionisasi dalam pelarut air dan tidak bereaksi dalam pelarut organik?
Hubungan antara KD dan D untuk basa lemah jika mengalami ionisasi dalam air     HB + H2O  H3O-  + B-
 dapat dicari dengan melibatkan rumus-rumus berikut ini:
                           D   =    ………………….(1)
                           KDHB  =   ……………………………………(2)
Ka  =           [B-] = Ka ……….(3)
Subtitusi (3) ke (1)
               D =
               Dengan mengeluarkan  dalam pembagi, maka :
D =
Merujuk ke persamaan (2), maka :
D =
5.    Buktikan bahwa dengan ekstraksi berganda akan dihasilkan persen terekstrak lebih besar dari pada satu kali ekstraksi ?
               Ekstraksi ganda akan menghasilkan  persen terekstrak lebih besar, hal itu dapat dibuktikan melalui praktikum maupun perhitungan. Misalnya pada praktikum kali ini, perbandingan antara penggunaan kloroform sekaligus 5 ml, dan penggunaan kloroform dibagi menjadi 5=@ 1 ml kloroform. Perbandingannya, dapat diketahui dari hitungan dengan menggunakan rumus
                  f aq= n

DAFTAR PUSTAKA
Azizah,  Utiyah, dkk.2011. Panduan Praktikum Mata Kuliah Kimia Analitik II : Dasar-dasar Pemisahan Kimia. Surabaya : Jurusan Kimia FMIPA UNESA.
Day,R.A,Underwood,A.L.2002.Analisis kimia kuantitatif. Jakarta: Erlangga
Soebagio, dkk. 2003. Kimia Analitik II. Malang: Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang.



LAPMIRAN
PERHITUNGAN DAN FOTO
PERHITUNGAN
1.    Pengenceran larutan I2
  
      
   
2.    Titrasi I2 dengan Na2S2O3 0,01 N (mmol I2 awal)
I2 + 2e              à 2I
2S2O32-             à S4O62- + 2e
I2 + 2S2O32-      à 2I + S4O62-

                      2 mol S2O32- melepaskan 2 elektron
                      1 mol S2O32- melepaskan 1 elektron
                      M S2O32- = 0,01 M
                     1 mol I2 2 mol S2O32-
Diketahui :  V1 S2O32- = 14,5 mL
                   V2 S2O32- = 14,3 mL
                   V3 S2O32- = 14,4 mL
                   M S2O32- = 0,01 M
Ditanya : mmol I2 mula-mula?
Jawab
1.      TITRASI I
1 mol I2 2 mol S2O32-
                                    mek I2 = mek S2O32-
                                    mek I2 = 14,5 ml x 0,01 x 1 mek/ml
                        mek I2 = 0,145 mek x 1 mmol / 2 mek
                        mek I2 = 0,0725 mmol
2.      TITRASI II
1 mol I2 2 mol S2O32-
                                    mek I2 = mek S2O32-
                                    mek I2 = 14,3 ml x 0,01 x 1 mek/ml
                        mek I2 = 0,143 mek x 1 mmol / 2 mek
                        mek I2 = 0,0715 mmol
3.      TITRASI III
1 mol I2 2 mol S2O32-
                                    mek I2 = mek S2O32-
                                    mek I2 = 14,3 ml x 0,01 x 1 mek/ml
                        mek I2 = 0,143 mek x 1 mmol / 2 mek
                        mek I2 = 0,072 mmol
jadi mmol I2 mula-mula =   
                                        =
                                        = 0,072 mmol
3.    Titrasi I2 dengan Na2S2O3 0,01 N setelah ekstraksi (mmol I2 sisa)
1.      TITRASI I
1 mol I2 2 mol S2O32-
                                    mek I2 = mek S2O32-
                                    mek I2 = 2,8 ml x 0,01 x 1 mek/ml
                        mek I2 = 0,028 mek x 1 mmol / 2 mek
                        mek I2 = 0,014 mmol
2.      TITRASI II
1 mol I2 2 mol S2O32-
                                    mek I2 = mek S2O32-
                                    mek I2 = 3 ml x 0,01 x 1 mek/ml
                        mek I2 = 0,03 mek x 1 mmol / 2 mek
                        mek I2 = 0,015 mmol
3.      TITRASI III
1 mol I2 2 mol S2O32-
                                    mek I2 = mek S2O32-
                                    mek I2 = 2,7 ml x 0,01 x 1 mek/ml
                        mek I2 = 0,027 mek x 1 mmol / 2 mek
                        mek I2 = 0,0135 mmol

mmol I2 sisa =
                      =
                      = 0,0142 mmol
[ I2 ] dalam fase air =
                              = 0,00142 M
4.    Penentuan konsentrasi fase organic
Mmol dalam fase organic = mmol awal – mmol sisa
                                          = 0,072 – 0,0142
                                          = 0,0578 mmol
[ I2 ]  dalam fase organik   = 0,0578 mmol/ 5 ml
                                           = 0,01156 M
5.    KD